KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERTANGGUNG BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN
TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS :
- CGP membuat
kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat, dengan
beraneka cara dan media.
- CGP dapat
melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari
pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan
keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk
memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.
Assalamu'alaikum
warahmatulllahi wabarakatuh, perkenalkan nama saya Susmiati, S.Pd Calon Guru
Penggerak ( CGP ) Angkatan 11 Kabupaten Bengkulu utara. Pendidikan Guru Penggerak membawa perubahan besar
dalam diri saya terutama dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Diawali oleh
modul 1, 2, dan 3. Selanjutnya sampailah saya pada Modul 3.1 Pengambilan
Keputusan sebagai berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin.
Materi-materi
yang luar biasa saya dapatkan dari 2 modul sebelumnya. Selama menjalani
Pendidikan Guru Penggerak ini saya dibimbing oleh fasilitator yaitu Bapak
Syanlendra Putra M.Pd yang luar biasa hebat, selalu membimbing,
mengarahkan, memotivasi tiada bosannya dan Pengajar Praktik Bapak
Abdul Rouf S.Pd yang sama luar biasanya dalam memberikan motivasi,
arahan, dan bimbingan demi kelanjutan pendidikan ini.
Pada
kesempatan ini saya ingin berbagi informasi tentang Pengambilan Keputusan
berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin. Namun sebelum
menguraikan materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran mari
kita renungkan kalimat bijak berikut ini :
“ Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun
mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik ” (Bob
Talbert).
Maksud
dari pernyataan diatas adalah kita sebagai guru dalam mengajarkan anak tidak
hanya ilmu pengetahuan saja, tetapi ilmu itu merupakan proses yang
sitematis dan terencana yang bisa merasuk kedalam kalbu sianak, alam
pikiran mereka, sehingga berdampak pada perilaku dan karakter sianak yang
beradab selain berilmu.
Seorang
guru yang baik, harusnya mampu menjadi teladan yang baik bagi sianak. Dimana
perilakunya bisa dicontoh dan perkataannya bisa dijadikan pegangan. Jika kita
menjadi guru artinya kita siap untuk menjadi teladan bagi anak yang kita ajar
maupun seluruh warga sekolah bahkan di lingkungan tempat tinggal kita sendiri.
Selain menjadi teladan, kita sebagai guru harus mampu berkontribusi bagi
peserta didik, setiap keputusan yang diambil haruslah berpihak pada murid dan
nilai-nilai yang dianut. Menjadi guru dan pendidik artinya
Kutipan
dari Bob Talbert diatas memiliki makna bahwa mengajarkan anak ilmu
pengetahuan itu akan bermanfaat, namun mengajarkan mereka tentang nilai-nilai
kebajikan dan nilai yang berharga adalah lebih utama. Dengan mengetahui
nilai-nilai utama atau nilai kebajikan, mereka akan dapat membedakan mana
hal-hal yang baik dan mana yang tidak baik. Melalui pendidikan, penanaman
nilai-nilai kebajikan ini akan memberikan murid kesempatan belajar mandiri
untuk dapat menemukan solusi dari penyelesaian sebuah permasalahan dan mampu
mengambil keputusan-keputusan yang tepat dalam proses pembelajaran yang mereka
jalankan. Kaitan kutipan di atas dengan modul 3.1 yang sedang saya pelajari
adalah bahwa penanaman nilai-nilai kebajikan akan sangat diperlukan oleh
murid-murid dalam proses pengambilan keputusan.
Proses pengambilan keputusan berbasiskan nilai-nilai kebajikan akan sangat berdampak dalam menciptakan, menumbuhkembangkan budaya positif (well-being) di lingkungan. Nilai-nilai kebajikan yang mendasari pengambilan keputusan yang mengacu pada kebermanfaatan untuk murid akan menguatkan tumbuhnya budaya positif tanpa adanya paksaan dan tuntutan. Oleh karena pendidikan sedianya membuat manusia menjadi manusia yang berperilaku etis (George Wilhelm Friedrich Hegel). Selain itu, pengambilan keputusan yang baik sebaiknya berlandaskan kepada 4 pradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Penerapan prinsip, paradigma dan uji keputusan ini akan menghasilkan putusan terbaik untuk diri sendiri dan lingkungan.
Dari beberapa sumber didapatkan bahwa manusia yang berperilaku etis adalah mereka yang memiliki sikap dan perilaku sesuai dengan norma-norma sosial yang diterima secara umum karena berhubungan dengan tindakan yang baik, benar, bermanfaat dan tidak membahayakan. Etis sering dikaitkan dengan tingkah laku perbuatan yang dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
Sebagai seorang pemimpin pembelajaran kita dapat berkontibusi pada proses pembelajaran murid dalam mengambil keputusan dengan cara menerapkan dan mengoptimalkan peran dan nilai sebagai guru penggerak. Nilai-nilai guru penggerak yang saya selalu terapkan adalah keberpihak kepada murid, mandiri, kolaboratif, inovatif dan reflektif. Sedangkan peran sebagai pendidik yang selalu saya lakukan adalah menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi rekan guru lain, menggerakkan komunitas praktisi, menodrong kolaborasi antar guru dan mewujudkan kepemimpinan murid.
- Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dengan Pratap Triloka pendidikan, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani bertujuan untuk memanusiakan manusia dengan cara membentuk pribadi yang berakhlak mulia untuk dapat memberikan keteladanan. Pendidik harus bersikap menuntun dan memberikan kebebasan kepada anak untuk mengembangkan kreativitas yang memberikan manfaat bagi tumbuh kembang anak.
Ing
Ngarsa Sung Tuladha berarti bahwa seorang pendidik yang berada di
depan hendaknya menjadi contoh atau suri teladan baik. Ing Ngarsa Sung Tuladha menekankan
pada ranah afektif yang berkaitan dengan sikap, perilaku, emosi, dan nilai.
Ranah ini mengenai perilaku-perilaku pendidik yang akan menjadi teladan bagi
peserta didik karena sejatinya setiap apa pun yang dilakukan pendidik akan
menarik perhatian dan contoh bagi peserta didik. Pendidik tidak bisa
memerintahkan peserta didik untuk melakukan hal-hal yang pendidik sendiri belum
memberikan contoh kepada peserta didik.
Ing
Madya Mangun Karsa, Ing Madya artinya di tengah-tengah, Mangun
artinya membangkitkan atau menggugah, dan Karsa artinya kemauan atau niat.
Pendidik adalah motivator bagi siswa, mendampingi siswa menciptakan ruang
impian yang diinginkan. Ing Madya Mangun Karsa ini erat kaitannya dengan
kebersamaan, kekompakan, dan kerja sama. Seorang pendidik berada di
tengah-tengah orang yang dididiknya untuk membangkitkan semangat.
Tut
Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang.
Handayani berarti memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Pendidik
akan mampu memberi dorongan setelah murid menyadari akan impiannya. Biarkan
murid berkembang sesuai bakat dan keinginannya. Pendidik harus mampu memberi
kemerdekaan kepada peserta didik dengan perhatian sepenuhnya untuk memberikan
petunjuk dan pengarahan.
Pratap
triloka Ki Hadjar Dewantara sangat berkaitan erat dengan penerapan pengambilan
keputusan, yaitu baik guru ataupun kepala sekolah sebagai pemimpin di sekolah
dalam menentukan program-program untuk memenuhi kebutuhan murid tentu membuat
sebuah perencanaan sedemikian rupa. Tentunya semua rancangan program, kegiatan,
dan segala aktivitas tersebut memerlukan sebuah target pencapaian yang
benar-benar berdampak baik untuk murid-murid. Sangat diperlukan sebuah kajian
dan analisa bagaimana pengaruh dan dampak sebuah perencanaan sebelum dijadikan
sebuah keputusan atau kebijakan. Pengambilan sebuah keputusan dan penentuan
sebuah kebijakan haruslah didasari pada kebermanfaatan yang tinggi untuk
kebutuhan murid-murid. Dalam proses pengambilan keputusan diperlukan uji
pengambilan putusan dengan menerapkan 9 langkah pengujian dimana hal ini
dilakukan untuk lebih meyakinkan bahwa keputusan yang akan diterapkan adalah
benar-benar keputusan yang membawa kebermanfaatan yang tinggi untuk
murid-murid.
- Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita,
berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu
keputusan?
Sebuah keputusan diambil
berlandaskan nilai-nilai kebajikan dan prinsip-prinsip yang kita yakini
biasanya akan menghasilkan keputusan yang terbaik. Nilai-nilai kebajikan yang
tertanam dalam diri akan mempengaruhi cara pikir dan menghasilkan cara
pengambilan keputusan yang berbeda. Sedianya semua nilai kebajikan yang ada
bertujuan untuk kebaikan murid, berkaitan dengan perilaku dan akhlak yang baik
dalam sudut pandang nilai-nilai yang diyakini secara universal. Nilai-nilai
kebajikan yang tertanam dalam diri akan dapat membantu proses pengambilan
keputusan yang tepat dan baik untuk murid.
- Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan
kegiatan coaching (bimbingan) yang diberikan pendamping atau
fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam
pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan
keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam
diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa
dibantu oleh sesi coaching yang telah dibahas pada sebelumnya.
Coaching merupakan sebuah
proses komunikasi yang dilakukan dengan tujuan memberdayakan potensi coachee,
dengan eksplorasi dan membangun ide. Proses pembangunan dan penggalian ide ini
akan menghasilkan alternatif-alternatif keputusan-keputusan yang akan diambil
untuk menyelesaikan persoalan yang dialami coachee. Tidak dapat dipungkiri,
dalam proses coaching ada subjektifitas. Subjektifitas yang terjadi
biasanya berkaitan dengan kompetensi sosial emosional diri coachee sebagai
pengambil keputusan. Kompetensi sosial emosional yang dimaksud adalah tentang
kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, kemampuan berelasi dan
pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Kompetensi sosial
emosional ini perlu dipertajam guna menghasilkan keputusan yang berpihak kepada
murid.
Pada aspek pengambilan
keputusan yang bertanggung jawab, pengambil keputusan terdapat beberapa
indikator yang sangat mempengaruhi proses pengambilan keputusan, diantaranya
adalah keterbukaan pikiran, kemampuan mengidentifikasi solusi, berlatih membuat
keputusan yang masuk akal dan memiliki alasan yang tepat dengan melakukan
analisa terhadap data dan fakta yang tersedia. Kemampuan berpikir kritis dan
mengantisipasi serta mengevaluasi konsekuensi dari sebuah rumusan putusan juga
sangat mempengaruhi pores uji pengambilan putusan itu sendiri. Penerapan 9
langkah uji pengambilan keputusan yang diterapkan saat coaching, akan
membantu menghasilkan keputusan/ide/ solusi terbaik dan efektif.
- Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari
aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu
keputusan khususnya masalah dilema etika?
Kompetensi
sosial emosional yang baik akan membantu pengambilan keputusan yang efektif.
Dalam proses pengambilan keputusan dan pembelajaran, seorang pendidik harus
jeli dan mampu melihat, serta memahami kebutuhan belajar muridnya.
Diantara kompetensi sosial emosional yang diperlukan adalah kesadaran diri (self
awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social
awareness) dan ketrampilan berhubungan sosial (relationship skills).
Sehingga diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar
penuh (mindful), terutama sadar dengan berbagai pilihan , konsekuensi
yang akan terjadi, dan meminimalisir kesalahan dalam pengambilan keputusan.
Proses
pengambilan keputusan membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri untuk
menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang kita ambil karena
tidak ada keputusan yang bisa sepenuhnya mengakomodir seluruh kepentingan orang
banyak. Tujuan utama pengambilan keputusan harus selalu didasarkan pada
kepentingan dan keberpihakan pada murid.
- Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah
moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Pada
pembahasan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika diperlukan
kesadaran diri atau self awareness dan keterampilan berhubungan
sosial untuk mengambil keputusan. Kita dapat menggunakan sembilan langkah
konsep pengambilan dan pengujian keputusan terutama pada uji legalitas untuk
menentukan apakah masalah tersebut termasuk bujukan moral yang berarti benar vs
salah ataukah dilema etika yang merupakan permasalahan benar vs benar. Apabila
permasalahan yang dihadapi adalah bujukan moral maka dengan tegas sebagai
seorang guru, kita harus kembali ke nilai-nilai kebenaran.
- Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya
berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan
nyaman.
Untuk
dapat mengambil sebuah keputusan yang tepat dan berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman, hal pertama yang harus kita
lakukan adalah mengidentifikasi terlebih dahulu kasus yang terjadi. Apakah
termasuk dalam dilema etika atau bujukan moral. Jika kasus tersebut merupakan
dilema etika, sebelum mengambil sebuah keputusan maka harus dilakukan analisa
pengambilan keputusan berdasarkan pada 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah
pengambilan dan pengujian keputusan. Sehingga keputusan yang diambil dan
diterapkan mampu menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman
untuk muridnya. Pengambilan keputusan terkait kasus-kasus masalah moral atau
etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan
pengujian keputusan.
Pengambilan
keputusan kasus dilema etika, akan menghasilkan keputusan akurat jika
melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut.
Keputusan yang dihasilkan diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan
dari pihak-pihak yang terlibat , dan berdampak pada terciptanya lingkungan yang
positif, kondusif, aman dan nyaman.
- Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk
dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika
ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Tantangan
yang ada di lingkungan saya dalam proses pengambilan keputusan adalah:
- Perbedaan mind set dan cara pandang pihak-pihak yang
terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Kondisi ini terkadang
diperburuk oleh indikator yang dijadikan sebagai bahan pertimbangan
keputusan terkadang bukanlah berpihak pada murid.
- Kurangnya pelibatan pihak terkait dalam
proses pengambilan keputusan.
- Kurang terbuka
dalam menerima saran sebagai bagian dari opsi trilema penyelesaian
masalah.
- Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil
ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita
memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang
berbeda-beda?
Merdeka
belajar merupakan tujuan akhir dari pembelajaran yang kita lakukan. Merdeka
belajar berarti murid bebas untuk mencapai kodrat alamnya untuk mengembangkan
potensinya, tanpa ada tekanan dari pihak mana pun. Pada akhirnya, merdeka
belajar akan mengantarkan murid mencapai kebahagiaannya sesuai dengan potensi
yang dimiliki. Oleh karena itu sedianya keputusan-keputusan yang kita buat dan
terapkan tidak boleh merusak, mengurangi atau bahkan menghilangkan
kebahagiaan murid-murid. Konsekuensi dari keputusan yang dihasilkan sedianya
dapat mengembangkan Hall ini sesuai dengan dasar-dasar pengambilan
keputusan yaitu, berpihak pada murid, sesuai dengan nilai-nilai kebajikan
universal dan dapat dipertanggungjawabkan.
- Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil
keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Guru
adalah pemimpin pembelajaran, Ki Hadjar Dewantara mengibaratkannya sebagai
seorang petani yang menyemai benih. Benih tersebut dapat tumbuh subur apabila
dirawat, dan dijaga dengan baik. Oleh karena itu seorang guru bertanggungjawab
untuk mengembangkan potensi yang dimiliki murid, sebagaimana petani yang
menyemai benih untuk mendapatkan hasil yang baik sehingga setiap keputusan guru
akan berpengaruh pada masa depan murid.
Untuk
mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, maka harus benar-benar
memperhatikan kebutuhan belajar murid. Jika keputusan yang diambil dengan
mempertimbangkan kebutuhan murid, maka sedianya mereka akan dapat mengembangkan
yang ada dalam dirinya. Sebagai pemimpin pembelajaran diharapkan guru dapat
memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya. Guru sebagai
penuntun dalam mengembangkan potensi yang dimiliki. Pendidik yang mampu
mengambil keputusan secara tepat akan memberikan dampak akhir yang baik dalam
proses pembelajaran sehingga mampu menciptakan well being murid untuk
masa depan yang lebih baik.
- Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari
pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul
sebelumnya?
Kesimpulan
yang didapat dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul
sebelumnya adalah :
- Pengambilan
keputusan adalah suatu kompetensi dan keterampilan yang harus dimiliki
oleh guru yang berlandaskan pada filosofi Ki Hajar Dewantara (pratap
triloka) yang dikaitkan pada nilai dan peran guru sebagai pemimpin
pembelajaran.
- Pengambilan
keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan nilai-nilai kebajikan
universal dan penerapan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan
yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being).
- Pengambilan
keputusan juga membutuhkan kematangan kompetensi sosial emosional
pengambil keputusan.
- Proses
coaching adalah bagian dari proses identifikasi
alternatif-alternatif pengambilan keputusan.
- Dalam
pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfulness)
untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila.
- Dalam
perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan
bujukan moral sehingga diperlukan penerapan 9langkah pengambilan dan
pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar
keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.
- Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang
telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4
paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9
langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut
Anda di luar dugaan?
Kasus-kasus yang dilema etika
atau bujukan moral sering kita temui dalam peran sebagai pemimpin pembelajaran
di kelas maupun sebagai pemimpin sekolah. Proses pengambilan keputusan untuk
kasus dilema etika sangat berbeda dengan proses pada kasus bujukan moral.
Proses pengambilan keputusan keduanya tidak hanya sekadar pertimbangan mana yang
bermanfaat dan menyelesaikan masalah dengan cepat. Dalam kasus dilema etika
perlu dilakukan penerapan 4 paradigma berpikir dan 3 prinsip penarikan
keputusan. Setelah itu perlu dilakukan sebuah uji atas rumusan keputusan yang
dibuat dengan 9 langkah uji pengambilan keputusan. Dalam 9 langkah uji tersebut
terdapat 5 uji terkait data dan fakta, yaitu uji legal, regulasi, intuisi,
publikasi dan panutan. Penemuan solusi kreatif melalui opsi trilemma membuat
rancangan keputusan akan semakin membuat keputusan menjadi putusan terbaik.
Hal-hal diluar dugaan saya dalam proses pengambilan keputusan ini adalah adanya
9 langkap uji keputusan, dimana uji intuisi dan panutan menjadi hal baru untuk
saya. Sebelumnya saya memandang intuisi adalah hal personal yang tidak perlu
dipertimbangkan dalam membuat sebuah keputusan. Sedangkan uji panutan
sebelumnya saya anggap adalah hanya bagian kecil referensi atau tahapan yang
dilakukan seorang pengambil keputusan dalam melakukan identifikasi solusi.
Selain itu sebelumnya saya tidak menduga ternyata semua kasus yang dihadapi
ternyata terdiri dari 2 kelompok, yaitu yang termasuk kasus dilema etika dan
kasus bujukan moral. Awalnya saya pikir kedua kasus ini penyelesaian dan
tahapan pengambilan keputusannya memiliki langkah yang sama. Setelah saya
pahami, kasus bujukan moral cukup diiselesaikan dengan dikembalikan pada
ilai-nilai kebajikan yang diyakini.
Sebelum mempelajari modul ini
saya pernah melakukan pengambilan keputusan hanya dengan mempertimbangkan
nilai-nilai kebajikan yang saya yakini. Saya menganggap semua penyelesaian
kasus dan penarikan keputusannya adalah sama.
Hal yang saya petik adalah,
penyelesaian sebuah kasus yang termasuk dilemma etika tidaklah semudah yang
saya bayangkan dan lakukan sebelumnya. Diperlukan ketelitian, kehati-hatian dan
pertimbangan yang kuat dimana semuanya berlandaskan pada terpenuhinya dan
sebesar-besarnya untuk kebermanfaatan p[ada murid-murid. Hal yang akan saya
lakukan setelah mempelajari modul ini terus ke depan adalah menerapkan 9
langkah pengambilan keputusan dalam setiap masalah dilema etika yang saya
hadapi, dengan berdasarkan pada 3 dasar, 4 paradigma, dan 3 prinsip pengambilan
keputusan. Pada akhirnya pembelajaran di modul ini adalah sangat penting, karna
hampir setiap waktu, sebagai pendidik maupun pemimpin saya akan
dihadapkan pada situasi dimana harus mengambil keputusan yang terbaik. Materi
pada modul ini akan menjadi dasar dan pijakan untuk saya dalam mengambil
keputusan-keputusan yang tepat dan terbaik untuk murid dan lingkungan saya,
khususnya dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik.

Luar biasa Bu, sungguh menginspirasi
BalasHapusMantap MBK...sukses selalu 👍
BalasHapusSangat menginspirasi Bu,,,,
BalasHapusSangat Menginspirasi
BalasHapustermakasih temen-teman
BalasHapus