Pertanyaan Pemantik
Sebelum melakukan telaah materi, silakan Anda mempelajari terlebih dahulu pertanyaan pemantik berikut ini :
1.
Apabila kita menganggap sebuah sekolah adalah sebuah ekosistem
dengan faktor biotik dan abiotik yang ada di dalamnya, maka faktor-faktor
apa saja yang termasuk dalam kelompok biotik dan abiotik?
Jawab:
Ekosistem merupakan sebuah tata interaksi
antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah
ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah
teritorial atau lingkungan tertentu. Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem,
sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup)
dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu
sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam
ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan
keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam
ekosistem sekolah di antaranya adalah:
1.
Murid
2.
Kepala
Sekolah
3.
Guru
4.
Staf/Tenaga
Kependidikan
5.
Pengawas
Sekolah
6.
Orang Tua
7.
Masyarakat
sekitar sekolah
8.
Dinas
terkait
9.
Pemerintah Daerah
2. Selain
faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga
berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya
adalah:
1.
Keuangan
2.
Sarana
dan prasarana
3.
Lingkungan
alam
2.
Bagaimanakah seharusnya seorang kepala sekolah berperan dalam
mengelola ekosistem sekolahnya?
Jawab
:
Kepala sekolah memiliki peran sebagai pemimpin
di sekolahnya dan bertanggung jawab dan memimpin proses pendidikan di
sekolahnya, yang berkaitan dengan peningkatan mutu sumber daya manusia,
peningkaan profesionalisme guru, karyawan dan semua yang berhubungan
dengan sekolah dibawah naungan kepala sekolah.
3.
Kemampuan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang kepala
sekolah sebagai pemimpin ekosistem sekolah?
Jawab
:
Kepala sekolah memiliki kemampuan dalam
membimbing dan memfasilitasi perbaikan proses belajar mengajar yang
meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta
pengelolaan kelas.
4.
Apa yang harus dilakukan oleh seorang kepala sekolah dalam
mengelola sumber daya sekolah secara efektif dan efisien?
Jawab:
yang dilakukan kepala
sekolah dalam mengelola sumber daya sekolah supaya efektif dan efisian adalah
membuat daftar kekuatan atau kelebihan yang dimiliki sekolah, dari sumber daya
manusia Guru dan Murid dan sumber daya fasilitas sebagai pendukung salam proses
pembelajaran, selanjutnya membuat rancangan atau rencana terhadap aksi nyata
pemanfaatan sumber daya sekolah dengan efisien, selanjutnya pelaksanaan aksi
nyata dan selalu di pantau, setelah itu di lakukan refleksi untuk memperbaiki
kekurangan pada aksi nyata sehingga pada aksi nyata selanjutnya lebou efektif
fan efisien.
5.
Seberapa besar dampak sumber daya (fasilitas) yang sekolah
miliki untuk memfasilitasi proses pembelajaran murid saat ini? Jelaskan!
Jawaban
:
Sumber daya fasilitas sangat berperan penting dalam
keberhasilan kegiatan pembelajaran di sekolah, walaupun untuk kasus tertentu
seperti bahan atau alat pembelajaran kita bisa memanfaatkan sumber daya lokal
yang ada, bila memang sekolah belum sanggup untuk menyiapkan fasilitas yang
sebenarnya.
6.
Sejauh mana sumber daya sekolah yang kita miliki sudah kita
gunakan secara efektif untuk mendukung kualitas pembelajaran di sekolah?
Jelaskan!
Jawaban
:
Sumber daya sekolah yang dimiliki belum begitu efektif,
karena mungkin pembelajaran daring yang lama, sehingga banyak alat bahan atau
fasilitas sekolah yang terbengkelai, sehingga sekarang butuh pemulihan untuk
bisa layak dipakai kembali.
7.
Adakah cara alternatif yang bisa kita lakukan untuk
memaksimalkan sumber daya yang sudah ada demi meningkatkan kualitas
pembelajaran murid?
Jawaban
:
Cara
alternatif dengan memanfaatkan sumber daya lokal untuk mengganti alat dan bahan
dalam pembelajaran. Hal ini selain membutuhkan kreativitas, juga mengajak
murid- murid kita untuk menggali sumber daya lokal yang ada.
8.
Sudahkah sekolah memanfaatkan apa yang ada di lingkungan
sekitar? Bagaimana pemanfaatannya?
Jawab
:
Sudah sebagian, kebetulan saya Guru Biologi, sering mengajak
murid untuk memanfaatkan yang ada di sekitar untuk pembelajaran.
Eksosistem merupakan
sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam
sebuah lingkungan. Sebuah ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling
menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu.
JIka diibaratkan sebagai
sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik
(unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling
berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras
dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling
memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor
biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:
·
Murid
·
Kepala Sekolah
·
Guru
·
Staf/Tenaga Kependidikan
·
Pengawas Sekolah
·
Orang Tua
·
Masyarakat sekitar sekolah
Selain faktor-faktor biotik yang sudah
disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang
keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah:
·
Keuangan
·
Sarana dan prasarana
Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based
Thinking) akan memusatkan perhatian kita pada apa yang
mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja. Segala
sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negatif. Kita harus bisa
mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang
ingin diraih. Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang
yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat
menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.
Pendekatan berbasis
aset (Asset-Based Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh
Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir
positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini merupakan cara praktis
menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan
menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan
perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan
ataupun potensi yang positif.
Perbedaan antara pendekatan berbasis
kekurangan dengan pendekatan berbasis aset dapat dilihat dari tabel di bawah
ini.
|
Berbasis pada
kekurangan/masalah/hambatan |
Berbasis pada aset |
|
Fokus pada masalah dan
isu |
Fokus pada aset dan
kekuatan |
|
Berkutat pada masalah
utama |
Membayangkan masa depan |
|
Mengidentifikasi
kebutuhan dan kekurangan selalu
bertanya apa yang kurang? |
Berpikir tentang
kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut. |
|
Fokus mencari bantuan
dari sponsor atau institusi lain |
Mengorganisasikan
kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan) |
|
Merancang program atau
proyek untuk menyelesaikan masalah |
Merancang sebuah rencana
berdasarkan visi dan kekuatan |
|
Mengatur kelompok yang
dapat melaksanakan proyek |
Melaksanakan rencana
aksi yang sudah diprogramkan |
(Green & Haines, 2010)
Sejarah
singkat pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development
Asset-Based Community Development (ABCD) yang selanjutnya akan kita sebut
dengan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) merupakan suatu kerangka
kerja yang dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann, di mana keduanya
adalah pendiri dari ABCD Institute di Northwestern University. ABCD dibangun
dari kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota
komunitas, kekuatan perkumpulan lokal, dan dukungan positif dari lembaga lokal
untuk menciptakan kehidupan komunitas yang berkelanjutan (Kretzman,
2010).
Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis
Aset (PKBA) muncul sebagai kritik terhadap pendekatan konvensional atau
tradisional yang menekankan pada masalah, kebutuhan, dan kekurangan yang ada
pada suatu komunitas. Pendekatan tradisional tersebut menempatkan komunitas
sebagai penerima bantuan, dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas
menjadi tidak berdaya, pasif, dan selalu merasa bergantung dengan pihak lain.
Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis
Aset (PKBA) menekankan pada nilai, prinsip dan cara berpikir mengenai dunia.
Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan,
jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Dengan demikian pendekatan
ini melihat komunitas sebagai pencipta dari kesehatan dan kesejahteraan, bukan
sebagai sekedar penerima bantuan. Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong
komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun
keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Kedua
peran yang penting ini menurut Kretzman (2010) adalah jalan untuk menciptakan
warga yang produktif.
Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis
Aset menekankan kepada kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat
menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan
potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang
diharapkan akan lebih berkelanjutan.
Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis
Aset berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah
komunitas. Selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan
pada masalah yang sedang dihadapi.
PKBA
sebagai Pendekatan yang Dibantu oleh Pihak Luar
Pendekatan PKBA merupakan pendekatan yang
digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut
sebagai community-driven development. Di dalam buku ‘Participant
Manual of Mobilizing Assets for Community-driven Development’ (Cunningham,
2012) menuliskan perbedaannya dengan pendekatan yang dibantu oleh pihak
luar. Penjelasan yang ada sebetulnya ditujukan untuk pengembangan
masyarakat, namun tetap bisa kita implementasikan pada lingkungan sekolah
karena sebetulnya adalah miniatur sebuah tatanan masyarakat di suatu daerah.
1. Perubahan masyarakat yang
signifikan karena warga lokal dalam masyarakat tersebut yang mengupayakan
perubahan. Apabila kita aplikasikan ke lingkungan sekolah dan seluruh warga
sekolah berupaya melakukan perubahan maka perubahan tersebut pasti akan
terjadi.
2. Warga masyarakat akan
bertanggung jawab pada yang sudah mereka mulai. Dengan demikian
setiap warga sekolah akan bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai.
3. Membangun dan membina
hubungan merupakan inti dari membangun masyarakat inklusif yang
sehat. Membangun dan membina hubungan antar warga sekolah, seperti
hubungan guru-guru, guru – kepala sekolah, guru – murid – guru, guru – staf
sekolah – guru, staf sekolah – murid – staf sekolah, ataupun kepala sekolah –
murid – kepala sekolah menjadi sangat penting untuk membangun sekolah yang
sehat dan inklusif.
4. Masyarakat tidak pernah
dibangun dengan berfokus terus pada kekurangan, kebutuhan dan masalah.
Masyarakat merespons secara kreatif ketika fokus pembangunan pada sumber daya-
sumber yang tersedia, kapasitas yang dimiliki, kekuatan dan aspirasi yang
ada. Sekolah harus dibangun dengan melihat pada kekuatan, potensi,
dan tantangan, kita harus bisa fokus pada pembangunan sumber daya yang tersedia,
kapasitas yang kita miliki, serta kekuatan dan aspirasi yang sudah ada.
5. Kekuatan sekolah
berbanding lurus dengan tingkat keberagaman keinginan unsur sekolah yang ada,
dan pada tingkat kemampuan mereka untuk menyumbangkan kemampuan yang ada pada
mereka dan aset yang ada untuk sekolah yang lebih baik.
6. Dalam setiap unsur
sekolah, pasti ada sesuatu yang berhasil. Dari pada menanyakan “ada masalah
apa?” dan “bagaimana memperbaikinya?”, lebih baik bertanya “apa yang telah
berhasil dilakukan?” dan “bagaimana mengupayakan lebih banyak hasil lagi?” Cara
bertanya ini mendorong energi dan kreativitas.
7. Menciptakan perubahan yang
positif mulai dari sebuah perbincangan sederhana. Hal ini merupakan cara
bagaimana manusia selalu berpikir bersama dan mencetuskan/memulai suatu
tindakan.
8. Suasana yang menyenangkan
harus merupakan salah satu prioritas tinggi dalam setiap upaya membangun
sekolah.
9. Faktor utama dalam
perubahan yang berkelanjutan adalah kepemimpinan lokal dan pengembangan dan
pembaharuan kepemimpinan itu secara terus menerus.
10.
Titik awal perubahan selalu pada perubahan pola pikir (mindset)
dan sikap yang positif.
Aset
– aset dalam sebuah komunitas
Dalam mengatasi tantangan
pada pendekatan tradisional yang digunakan untuk mengatasi permasalahan
perkotaan, di mana penyedia jasa dan lembaga donor lebih menekankan pada
kebutuhan dan kekurangan yang terdapat pada komunitas, Kretzmann dan McKnight
menunjukkan bahwa aset yang dimiliki oleh komunitas adalah kunci dari usaha
perbaikan kehidupan pada komunitas perkotaan dan pedesaan .
Menurut Green dan Haines (2002) dalam Asset
building and community development, ada 7 aset utama atau di dalam
buku ini disebut sebagai modal utama, yaitu:
1. Modal Manusia
Ø
Sumber
daya manusia yang berkualitas, investasi pada sumber daya manusia menjadi
sangat penting yang berhubungan dengan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan,
dan harga diri seseorang.
Ø
Pemetaan
modal atau aset individu merupakan kegiatan menginventaris pengetahuan,
kecerdasan, dan keterampilan yang dimiliki setiap warganya dalam sebuah
komunitas, atau dengan kata lain, inventarisasi perorangan dapat dikelompokkan
berdasarkan sesuatu yang berhubungan dengan hati, tangan, dan kepala.
Ø
Pendekatan
lain mengelompokkan aset atau modal ini dengan melihat kecakapan seseorang yang
berhubungan dengan kemasyarakatan, contohnya kecakapan memimpin sekelompok
orang, dan kecakapan seseorang berkomunikasi dengan berbagai kelompok.
Kecakapan yang berhubungan dengan kewirausahaan, contohnya kecakapan dalam
mengelola usaha, pemasaran, yang negosiasi. Kecakapan yang berhubungan
dengan seni dan budaya, contohnya kerajinan tangan, menari, bermain teater, dan
bermain musik.
2. Modal Sosial
Ø
Norma
dan aturan yang mengikat warga masyarakat yang ada di dalamnya dan mengatur
pola perilaku warga, juga unsur kepercayaan (trust) dan jaringan
( networking) antara unsur yang ada di dalam komunitas/masyarakat.
Ø
Investasi
yang berdampak pada bagaimana manusia, kelompok, dan organisasi dalam komunitas
berdampingan, contohnya kepemimpinan, bekerjasama, saling percaya, dan punya
rasa memiliki masa depan yang sama.
Ø
Contoh-contoh
yang termasuk dalam modal sosial antara lain adalah asosiasi. Asosiasi adalah
suatu kelompok yang ada di dalam komunitas masyarakat yang terdiri atas
dua orang atau lebih yang bekerja bersama dengan suatu tujuan yang sama dan
saling berbagi untuk suatu tujuan yang sama. Asosiasi terdiri atas kegiatan yang
bersifat formal maupun nonformal. Beberapa contoh tipe asosiasi adalah
berdasarkan keyakinan, kesamaan profesi, kesamaan hobi, dan sebagainya.
Terdapat beberapa macam bentuk modal sosial, yaitu fisik (lembaga), misalnya
asosiasi dan institusi. Institusi adalah suatu lembaga yang mempunyai struktur
organisasi yang jelas dan biasanya sebagai salah satu faktor utama dalam proses
pengembangan komunitas masyarakat.
3. Modal Fisik
Terdiri
atas dua kelompok utama, yaitu:
Ø
Bangunan
yang bisa digunakan untuk kelas atau lokasi melakukan proses pembelajaran,
laboratorium, pertemuan, ataupun pelatihan.
Ø
Infrastruktur
atau sarana prasarana, mulai dari saluran pembuangan, sistem air, mesin, jalan,
jalur komunikasi, sarana pendukung pembelajaran, alat transportasi, dan lain-lain.
4. Modal Lingkungan/alam
Ø
Bisa
berupa potensi yang belum diolah dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dalam
upaya pelestarian alam dan juga kenyamanan hidup. Modal lingkungan
terdiri dari bumi, udara yang bersih, laut, taman, danau, sungai, tumbuhan,
hewan, dan sebagainya.
Ø
Tanah
untuk berkebun, danau atau empang untuk berternak, semua hasil dari pohon
seperti kayu, buah, bambu, atau material bangunan yang bisa digunakan kembali
untuk menenun, dan sebagainya.
5. Modal Finansial
Ø
Dukungan
keuangan yang dimiliki oleh sebuah komunitas yang dapat digunakan untuk
membiayai proses pembangunan dan kegiatan sebuah komunitas.
Ø
Modal
finansial termasuk tabungan, hutan, investasi, pengurangan dan pendapatan
pajak, hibah, gaji, serta sumber pendapatan internal dan eksternal.
Ø
Modal
finansial juga termasuk pengetahuan tentang bagaimana menanam dan menjual sayur
di pasar, bagaimana menghasilkan uang dan membuat produk-produk yang bisa
dijual, bagaimana menjalankan usaha kecil, bagaimana memperbaiki cara penjualan
menjadi lebih baik, dan juga bagaimana melakukan pembukuan.
6. Modal Politik
Ø
Modal
politik adalah ukuran keterlibatan sosial. Semua lapisan atau kelompok memiliki
peluang atau kesempatan yang sama dalam kepemimpinan, serta memiliki suara
dalam masalah umum yang terjadi dalam komunitas.
Ø
Lembaga
pemerintah atau perwakilannya yang memiliki hubungan dengan komunitas, seperti
komunitas sekolah, komite pelayan kesehatan, pelayanan listrik atau air.
7. Modal Agama dan budaya
Ø
Upaya
pemberian bantuan empati dan perhatian, kasih sayang, dan unsur dari kebijakan
praktis (dorongan utama pada kegiatan pelayanan). Termasuk juga kepercayaan,
nilai, sejarah, makanan, warisan budaya, seni, dan lain-lain.
Ø
Kebudayaan
yang unik di setiap daerah masing-masing merupakan serangkaian ide, gagasan,
norma, perlakuan, serta benda yang merupakan hasil karya manusia yang hidup
berkembang dalam sebuah ruang geografis.
Ø
Agama
merupakan suatu sistem berperilaku yang mendasar, dan berfungsi untuk mengintegrasikan
perilaku individu di dalam sebuah komunitas, baik perilaku lahiriah maupun
simbolik. Agama menuntut terbentuknya moral sosial yang bukan hanya
kepercayaan, tetapi juga perilaku atau amalan.
Ø
Identifikasi
dan pemetaan modal budaya agama merupakan langkah yang sangat penting untuk
melihat keberadaan kegiatan dan ritual kebudayaan dan keagamaan dalam suatu
komunitas, termasuk kelembagaan dan tokoh-tokoh penting yang berperan langsung
atau tidak langsung di dalamnya.
Ø
Sangat
penting kita mengetahui sejauh mana keberadaan ritual keagamaan dan kebudayaan
yang ada di masyarakat serta pola relasi yang tercipta di antaranya dan
selanjutnya bisa dimanfaatkan sebagai peluang untuk menunjang pengembangan
perencanaan dan kegiatan bersama.
Komentar
Posting Komentar